Sekali waktu saya ngecek harga printer multi guna di salah satu jalan Gajah Mada pontianak.
Anak kecil seumuran 3 tahun berlarian mengeliingi toko yang cukup besar.
Badanku kedinginan. AC plus angin dingin yang menyeruak masuk menyirat pertanda hujan sebentar lagi menghampiri. Masih terus berbincang dan menawar printer yang diinginkan. Orang tua anak ini bersama
sang istri juga berbincang disamping.
Dari obrolannya kupingku menyimpulkan dia barusan beli laptop. Tapi ada masalah dengan sofware nya.
Masih nego yang alot, printer ku dibungkus. Packing plastik hitam yang di sobek untuk menutupi seluruh permukaan kotak printer. Kebetulan hujan menderu keras di luar. Anginnya juga menggetarkan tulang.
Dudukan di motor sambil menyulut sampoerna di bibir, kami berdua pasutri beranak satu menunggu hujan reda. Tiba-tiba anaknya merengek sambil mengucapkan sesuatu yang ngak begitu jelas dikupingku.
Derai hujan melebat seketika. Aku hanya melihat gerak bibir yang merengek
Sayup kudengar, Sang ibu langsung mengikuti perintah sang suami yang tampaknya cukup religius ini menuruti perintah sang anak. Dengan cekatan ibu melorotkan celana anak keriting ini dan mendudukannya tepat di pinggir depan toko antara pembatas pintu besi toko komputer ini.
“stttt…………..!” air tiba-tiba terdengar mendesir.
Aku kaget sebentar, sambil menghembuskan asap rokok.
“Ternyata anak itu mau pipis.” dalam hatiku, penasaran dengan rengekan nya
Serasa aku kembali ke alam kecil sewaktu di kampung.
Dimana aku merasa nyaman disitu aku kencing, dimana aku merasa ingin disitu aku mengeluarkan air nya.
Di kota besar, tahun 2009 lagi, masih ada prilaku embarrassing orang tua yang ditelorkan
ke buah hatinya.Padahal agama mengajarkan beretika yang baik dan etika salah satu ukuran.
Apa salah nantinya anak kurang ajar ketika besarnya?
Apakah salah jika anak-anak kita tidak lagi punya sense of embarrassing?
Komentar Terakhir